Di usianya yang baru 2,5 tahun, NA mengalami nasib tragis. Dia disiksa oleh pacar ibunya. Matanya dipukul pakai tang, lidahnya robek usai ditarik pakai tang. Peristiwa itu terjadi di Karawang, Jawa Barat.
Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan, menyebut pelaku penganiayaan berinisial IP (30). Dia sudah ditangkap.
Seperti apa kasusnya?
Wildan menuturkan, kejadian memilukan ini terjadi pada Kamis malam (12/2). Saat itu, ibu korban berinisial IP (20) dan pelaku melakukan check-in di sebuah hotel di Karawang Barat.
Sekitar pukul 02.00 WIB, pelaku meminta ibu korban keluar untuk membelikan makanan. Namun, selang 20 menit kemudian, saat kembali ke kamar, IP terkejut mendapati anaknya sudah bersimbah darah.
“Korban mengalami luka serius berdasarkan hasil visum,” kata Wildan, Sabtu (14/2).
Kesal Dengar Tangis
Pelaku diduga secara keji mencolok mata kiri korban dan merobek lidahnya menggunakan tang karena kesal korban terus menangis. Setelah menerima laporan, polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi hingga akhirnya pelaku berhasil diringkus.
“Tersangka saat ini sudah resmi ditahan di Rutan Polres Karawang untuk menjalani proses hukum lebih lanjut,” jelas Wildan.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 80 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2026. Ia terancam pidana penjara paling lama 5 tahun.
IP, ibu korban, mengungkapkan saat kejadian pelaku sempat mengelak dan mengatakan korban hanya terjatuh dari kasur.
“Itu matanya dipukul-pukul pakai tang. Terus mulut, lidahnya itu dijepit, langsung ditarik sama dia. Awalnya dia ngakunya anak aku cuma jatuh posisinya sujud, sedangkan di kamar hotel itu lantainya nggak ada yang tajam,” bebernya.
IP mengaku, selama tiga bulan berpacaran dengan pelaku, perlakuan kasar terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi.
“(Pacaran) tiga bulan. Ini yang ketiga kali (dianiaya),” ungkap IP saat ditemui di RSUD Karawang.
“Yang pertama digigit, terus yang kedua digigit ini (tangan) sama iganya sampai bengkak. Terus ini tulang belakangnya kayak ngebendol gitu. Tapi masih bisa ditangani sama mama saya, diurut terus,” tambahnya.
Bupati Karawang: Proses Hukum Harus Tegas
Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, menjenguk NA di rumah sakit. Saat berada di ruang perawatan, Aep berinteraksi langsung dengan tenaga medis serta keluarga korban untuk mengetahui kondisi terkini anak tersebut.
“Kami hadir untuk memastikan anak ini mendapatkan penanganan terbaik. Keselamatan dan pemulihan korban menjadi prioritas utama,” ujar Aep.
Kepada keluarga korban, Aep menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mengecam keras tindakan kekerasan yang dialami balita tersebut.
Dia menilai, segala bentuk kekerasan terhadap anak merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi dan harus diproses sesuai hukum.
“Kekerasan terhadap anak adalah tindakan yang sangat memprihatinkan dan tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun. Kami mengecam keras perbuatan pelaku dan berharap proses hukum berjalan tegas,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pemerintah hadir untuk memberikan dukungan, baik secara moral maupun melalui layanan yang dibutuhkan. Selain itu, ia juga menyerahkan bantuan sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah kepada korban dan keluarga.
“Yang terpenting sekarang ibu harus tetap kuat. Fokus kita bersama adalah kesembuhan anak ini. Pemerintah daerah akan terus memantau dan mendampingi,” ungkapnya.
Kondisi Balita
Perwakilan manajemen RSUD Karawang, Uung Susangka, mengungkap kondisi NA masih memprihatinkan dan dalam pengawasan penuh tim medis, mengingat luka serius yang dialaminya di bagian lidah dan mata.
Selama perawatan, korban harus menggunakan dua infusan untuk memaksimalkan asupan ke dalam tubuh balita malang tersebut.
"Pertama kan karena bekas (dijepit) ditarik paksa pakai tang. Jadi robek, fungsi lidah terganggu karena ada luka robek," kata Uung saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2).
Adapun bagian mata kiri korban, Uung belum bisa memastikan apakah berpotensi mengalami kebutaan atau tidak. Kepastian itu harus melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis mata.
"Karena terjadi kekerasan trauma di mata, bengkak, untuk melihat keadaan penglihatan si anak masih bisa atau tidak nanti paling di hari Rabu ke spesialis mata akan ada pemeriksaan secara komprehensif," bebernya.

2 hours ago
3















English (US) ·