Sering Terlupakan, Inilah Alasan Mengapa Sya’ban Disebut “Bulan Rasulullah”

1 day ago 1
Ilustrasi suasana bulan sya'ban sumber : unsplash.com

Bulan Sya’ban sering kali hadir secara senyap di tengah euforia umat Islam yang tengah bersiap menyambut Ramadan. Berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadan, Sya’ban kerap menjadi waktu yang terlupakan. Padahal, bagi para pencari ridho Allah, bulan ini adalah gerbang penentu kualitas ibadah kita di bulan suci setelahnya.

Secara etimologi, kata Sya’ban (شعبان) berasal dari akar kata Syi’ab yang berarti jalan di atas gunung atau celah lembah. Dinamakan demikian karena pada masa silam, bangsa Arab pada bulan ini berpencar (tasy’aba) mencari sumber air untuk persiapan menghadapi musim panas yang ekstrem.

Dalam perspektif spiritual, Sya'ban didefinisikan sebagai bulan "pancaran" atau "cabang" kebaikan. Ia adalah masa di mana amal-amal hamba selama setahun diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Jika Rajab adalah waktu untuk menanam benih, maka Sya’ban adalah waktu untuk menyiram dan merawat tanaman tersebut agar kita bisa memanen buahnya di bulan Ramadan. Inilah mengapa Sya’ban memiliki kedudukan yang sangat personal bagi Baginda Nabi Muhammad SAW, hingga beliau menyebutnya sebagai "Bulanku".

Berikut adalah alasan-alasan fundamental yang mendasari sebutan tersebut:

Penyebutan Sya’ban sebagai bulan Rasulullah berakar dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Dailami, di mana Rasulullah SAW bersabda:

رَجَبُ شَهْرُ اللَّهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي

“Rajabu syahrullâh, wa Sya’bânu syahrî, wa Ramadhânu syahru ummatî.

Artinya: "Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku."

2. Turunnya Perintah Shalawat

Salah satu alasan utama mengapa Sya’ban disebut bulan Rasulullah adalah karena pada bulan inilah Allah SWT menurunkan ayat tentang perintah bershalawat. Ayat tersebut adalah Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Innallâha wa malâ'ikatahu yushallûna ‘alan-nabiy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ.

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

3. Peristiwa Perpindahan Kiblat

Sya’ban juga menjadi saksi sejarah atas dikabulkannya keinginan hati Rasulullah. Selama belasan bulan di Madinah, Rasulullah salat menghadap Baitul Maqdis sembari terus menatap ke langit, berharap kiblat berpindah ke Kakbah. Allah kemudian mengabulkan keinginan beliau di pertengahan bulan Sya’ban:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Qad narâ taqalluba wajhika fis-samâ'i falanuwalliyannaka qiblat...

Read Entire Article