Di Kediri, cinta tidak pernah menjadi narasi yang manis dan manja. Di sini, cinta adalah tentang kehilangan, pencarian, dan penyamaran yang melelahkan—sebuah kisah klasik antara Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.
Menyamar untuk Menemukan: Filosofi Panji Semirang
Sering kali terdapat anggapan keliru bahwa cerita rakyat hanyalah dongeng pengantar tidur tentang pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi. Namun, dalam labirin lakon Panji, narasi yang muncul justru merupakan kontras tajam dari dongeng-dongeng ala Barat yang cenderung pasif.
Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana, sang putri dari Kerajaan Jenggala, tidak memilih untuk duduk diam meratapi nasib di balik tembok istana. Ketika keadaan memaksanya untuk pergi, langkah yang diambil bukan sekadar pelarian, melainkan sebuah keputusan untuk "menghilang".
Dalam berbagai versi babad, Sekartaji menanggalkan segala atribut keningratannya, memotong rambut, dan menyamar menjadi seorang pemuda bernama Panji Semirang.
Ada keunikan sosiologis dalam keputusan ini. Pilihan untuk menyamar sebagai rakyat jelata—bahkan berpindah identitas gender—menunjukkan bahwa jati diri tidaklah melekat pada kemben sutra atau mahkota emas.
Dengan menyentuh tanah, merasakan lapar di perjalanan, dan memahami arti kesetiaan dari kasta terbawah, Sekartaji sedang melakukan sebuah pengujian terhadap makna cinta yang sesungguhnya. Identitas anonim digunakan untuk membedakan antara mereka yang mencintai penampilan luarnya saja dengan mereka yang setia pada esensi jiwa.
Kondisi ini terasa sangat kontras dengan era panggung sandiwara media sosial. Di saat dunia sibuk flexing, membangun citra agar terlihat "berada", Sekartaji justru sibuk menghilangkan jejak agar bisa melihat kenyataan dengan lebih jujur.
Panji: Sang Pangeran yang Berpeluh Matahari
Di sisi lain, terdapat sosok Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati. Sebagai putra mahkota, sangat mudah untuk mengirim pasukan demi mencari kekasih yang hilang. Namun, dalam hikayat Panji, sang pangeran justru memilih untuk berangkat seorang diri.
Ia berkelana dari satu desa ke desa lain, menyamar menjadi pengembara dengan berbagai nama, salah satunya Kuda Wanengpati.
Ini adalah bentuk pengabdian yang jauh mendahului konsep modern tentang pemimpin yang turun ke lapangan. Panji rela menukar kenyamanan istana dengan debu jalanan.
Pencarian ini bukan hanya tentang menemukan orang lain, melainkan tentang penempaan diri sendiri. Bahwa cinta yang besar menuntut kerendahan hati untuk melepaskan segala hak istimewa.
Tirakat yang dilakukan Panji adalah antitesis dari gaya hidup instan. Di masa kini, perpisahan sering kali direspons dengan penghapusan memori digital secara cepat. Namun, Panji dan Sekartaji membuktikan bahwa cinta yang suci layak diperjuangkan melalui perjalanan yang berpeluh dan melelahkan.
Semangat "laku" atau tirakat ini masih terasa denyutnya di Kediri—hadir dalam keheningan para santri yang melantunkan bait-bait doa saat sepertiga malam atau dalam kesunyian para perajin tenun yang menyilangkan benang demi benang dengan penuh presisi.
Kontras Sosiologis: Antara Istana dan Trotoar
Terdapat keindahan tersembunyi dalam legenda ini yang melunturkan sekat-sekat strata sosial. Penyamaran Panji dan Sekartaji menghancurkan protokol kaku istana dan menggantinya dengan interaksi yang manusiawi di tengah masyarakat.
Ketika m...

6 days ago
3














English (US) ·