Klaim itu awalnya disambut dengan kehati-hatian. Masa Perang Dingin dipenuhi operasi intelijen dan provokasi. Namun setelah melalui verifikasi identitas yang ketat, pernyataannya terbukti benar. Perempuan itu memang anak dari mantan pemimpin Uni Soviet. Dalam hitungan hari, Svetlana dipindahkan secara rahasia ke Barat. Peristiwa ini segera menjadi sensasi internasional dan pukulan besar bagi Uni Soviet.
Anak Perempuan di Pusat Kekuasaan Soviet
Svetlana lahir pada 1926 dari pernikahan Stalin dengan Nadezhda Alliluyeva. Dalam kehidupan pribadi, Stalin dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan putrinya. Ia memperlakukan Svetlana dengan penuh perhatian dan kasih sayang, berbeda dengan citra publiknya sebagai pemimpin yang dingin dan represif.
Masa kecil Svetlana berubah drastis ketika ibunya meninggal dunia pada 1932. Kematian Nadezhda secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, meskipun di lingkungan internal Kremlin beredar berbagai spekulasi dan dugaan lain. Sejak peristiwa itu, Svetlana tumbuh tanpa figur ibu, sementara Stalin semakin tertutup dan keras dalam kehidupan pribadi maupun politik.
Meski hidup di lingkungan kekuasaan yang penuh tekanan, Svetlana memperoleh pendidikan yang baik. Ia belajar sejarah, sastra, dan bahasa asing, serta dikenal memiliki kemampuan intelektual yang kuat. Namun, statusnya sebagai anak pemimpin Soviet membuat kehidupan pribadinya tidak pernah sepenuhnya lepas dari kontrol negara.
Hubungan Pribadi dan Intervensi Politik
Pada masa remaja, Svetlana menjalin hubungan dengan Alexei Kapler, seorang penulis dan sineas terkenal yang jauh lebih tua darinya. Hubungan ini memicu kemarahan Stalin. Kapler ditangkap dan dijatuhi hukuman kerja paksa di kamp Siberia. Peristiwa ini menjadi pengalaman awal bagi Svetlana bahwa relasi personalnya dapat berujung pada konsekuensi politik yang serius.
Pernikahan-pernikahan berikutnya juga tidak berjalan mulus. Salah satu suaminya berasal dari keluarga yang ayahnya dipenjara pada masa pembersihan politik Stalin. Campur tangan negara dan tekanan politik membuat pernikahan itu berakhir. Upaya Svetlana membangun kehidupan rumah tangga berulang kali terbentur oleh latar belakang keluarganya.
Stalin meninggal dunia pada 1953. Dalam prosesi pemakamannya, Svetlana tampil sebagai satu-satunya anggota keluarga inti yang hadir secara terbuka. Ia berdiri sendirian di tengah kerumunan besar rakyat Soviet yang menghadiri pemakaman kenegaraan tersebut.
Alih-alih membawa kebebasan, kematian Stalin justru menempatkan Svetlana dalam posisi politik yang rumit. Para pemimpin baru Uni Soviet memandangnya sebagai simbol yang sensitif dan berpotensi berbahaya. Tekanan terhadap kehidupan pribadinya semakin terasa, terutama karena ia menyandang nama keluarga Stalin.
Kesempatan keluar dari Uni Soviet datang pada 1967, ketika Svetlana diizinkan bepergian ke India untuk mengurus abu jenazah Brajesh Singh, pasangannya yang berkewarganegaraan India. Selama berada di luar negeri, ia menyadari bahwa posisinya semakin rentan. Tekanan untuk kembali ke Uni Soviet meningkat, sementara dinamika politik di Moskow membuat masa depannya tidak pasti.
Di New Delhi, Svetlana mengambil keputusan besar dengan mendatangi Kedutaan Besar Amerika Serikat dan meminta suaka politik. Permintaan itu diterima. Dengan pengamanan ketat, ia dipindahkan ke Barat. Uni Soviet mengecam langkah tersebut, sementara media internasional menjadikannya simbol pembelotan paling spektakuler dalam Perang Dingin.
Di Amerika Serikat, Svetlana memperoleh perhatian luas. Memoarnya diterbitkan dan meraih kesuksesan komersial besar. Ia menjadi figur publik yang sering dimanfaatkan dalam narasi propaganda Barat. Namun, kehidupan pribadinya tetap tidak stabil.

2 days ago
2














English (US) ·