Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 4,2 Juta/Gram pada 2026, Baiknya Beli atau Jual?

2 days ago 3
Tren investasi emas batangan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Harga emas dunia dan domestik tengah memasuki fase yang dinilai sebagai periode historis. Lonjakan harga emas global yang menembus rekor tertinggi di level USD 5.000 per troy ons, turut mendorong harga emas batangan di Indonesia di atas Rp 3.000.000 per gram.

Kondisi itu dinilai memicu meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, baik sebagai instrumen lindung nilai maupun investasi jangka panjang.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuabi, menyebut tren penguatan harga emas masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Ia memproyeksikan harga emas domestik berpotensi menembus Rp 4,2 juta per gram pada 2026.

“Perkiraan (harga emas Antam) Rp 4,2 juta per gram. Masyarakat sudah melek teknologi dan bergegas beli logam mulia baik fisik maupun emas digital di bullion bank yaitu BSI dan pegadaian,” ujar Ibrahim kepada kumparan, Kamis (29/1).

Menurutnya, meningkatnya literasi keuangan dan kemudahan akses pembelian emas secara digital turut mempercepat arus permintaan. Masyarakat kini tidak hanya membeli emas fisik, tetapi juga memanfaatkan layanan emas digital yang ditawarkan perbankan syariah dan lembaga keuangan.

Dari perspektif global, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) World Gold Council, Joseph Cavatoni, menilai lonjakan harga emas saat ini bukan sekadar fenomena spekulatif. Kenaikan harga emas mencerminkan perubahan besar dalam perilaku investor global yang tengah merespons tingginya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.

Cavatoni menjelaskan lonjakan harga emas ke level USD 5.000 mencerminkan reposisi investor yang sebelumnya memiliki alokasi emas rendah, namun kini kembali menjadikan emas sebagai instrumen utama untuk ketahanan portofolio. Dalam 30 hari terakhir saja, harga emas melonjak lebih dari USD 500, menandakan betapa cepatnya sentimen pasar berubah.

“Risiko terbesar bagi emas adalah membaiknya sentimen risiko global secara signifikan, terutama jika pertumbuhan ekonomi menguat tanpa disertai ketegangan geopolitik. Kepastian jalur pertumbuhan, berkurangnya ketidakpastian, serta pulihnya kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan dapat mengurangi urgensi kepemilikan aset defensif,” kata Cavatoni dalam keterangan tertulis.

Cavatoni menuturkan selama ketidakpastian global, dinamika kebijakan yang disruptif, serta kebutuhan diversifikasi masih bertahan, emas diprediksi tetap berada di level tinggi hingga 2026 dan terus menguji rekor baru.

“Kebutuhan diversifikasi, emas diprediksi akan tetap berada di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji level baru pada 2026,” ungkap Cavatoni.

Di dalam negeri, tingginya harga emas memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan masyarakat. Perencana Keuangan Mike Rini menilai kondisi ini perlu disikapi dengan hati-hati, terutama bagi investor ritel yang membeli emas tanpa perencanaan keuangan yang matang.

Mike Rini Sutikno. Foto: kumparan

Mike menjelaskan membeli emas saat harga berada di level tertinggi bukanlah pilihan ideal jika tujuan utamanya adalah mengejar keuntungan jangka pendek dari selisih harga jual dan beli. Ia menegaskan emas bersifat fluktuatif dan berpotensi mengalami koreksi setelah menembus level tertinggi. Meski begitu, emas tetap relevan sebagai instrumen diversifikasi dan perlindungan nilai dalam jangka menengah dan panjang.

“Jadi, membeli emas saat ini masih bisa menguntungkan jika, ini hanya jika ya, jika tujuannya sebagai bagian dari strategi alokasi aset yang seimbang,” kata...

Read Entire Article